Hikmah Alawiyah
Image default
Kabar Mahya

Ajaran Substansial Thariqah Alawiyah Perlu Diperkenalkan Lebih Luas

“Umumnya masyarakat mengenal Thariqah Alawiyah melalui amalan, seperti maulid, haul, atau ziarah kubur.  Sementara masih banyak substansi ajaran yang bisa digali, misalnya prinsip-prinsip moderat dalam thariqah ini,”

Kehadiran Lembaga Penelitian dan Perpustakaan Majelis Hikmah Alawiyah (MAHYA) yang salah satu cakupan kerjanya mengumpulkan kitab-kitab Salaf, menarik perhatian para Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Sabtu (15/9) lalu, para dosen yang  juga tergabung dalam ADPISI (Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam) tersebut, berkesempatan mengunjungi kantor MAHYA di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

Rombongan dosen yang terdiri dari DR. Andy Hariyanto, DR. Abdul Fadhil, KH. Ahmad Rusydi, M.Pd dan Khairil Ikhsan siregar, MA, diterima oleh Sekretaris Umum MAHYA, Bapak Hafidz Alatas,  dan pengurus harian lainnya.

Dalam kunjungan tersebut, para Dosen PAI melihat langsung koleksi Perpustakaan Kanzul Hikmah yang banyak diisi kitab-kitab karya Alawiyyin. “Kitab-kitab ini luar biasa, kami jarang menemui kitab-kitab sejenis ini di perpustakaan umum,” ujar KH. Ahmad Rusydi, M.Pd.

Saat ini MAHYA masih terus melakukan pengumpulan dan pendataan kitab-kitab karya Alawiyyin. Koleksi kitab yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari 3.000 judul dimana separuhnya masih dalam proses pengiriman ke Perpustakaan Kanzul Hikmah.

Kunjungan tersebut juga diselingi diskusi menyoal Thariqah Alawiyah. Menurut mereka, selama ini masyarakat mengenal Thariqah Alawiyah dari sisi amaliah. “Masyarakat umumnya mengenal Thariqah Alawiyah melalui amalan, seperti maulid, haul, atau ziarah kubur.  Sementara masih banyak substansi ajaran yang bisa digali, misalnya prinsip-prinsip moderat dalam thariqah ini,” ungkap DR Andy Hariyanto, Dosen Prodi Ilmu Agama Islam UNJ.

Hal ini juga diakui DR. Abdul Fadhil, beliau mengatakan, bukan saja masyarakat, bahkan kalangan akademis masih minim pengetahuannya tentang karya-karya Alawiyyyin Nusantara, “Banyak karya Alawyyin yang kami tidak ketahui sebelumnya, misalnya ada habaib yang ternyata juga seorang novelis,” ujarnya merujuk buku Fatat Garut karya Al Habib Ahmad Abdullah Assegaf.

“Pengetahuan yang diterima umumnya berupa pemahaman, bahwa para habaib ini adalah penyebar Islam di Nusantara. Sudah selesai sampai di situ. Padahal, mereka juga produktif menulis karya-karya yang mencerahkan ” sambungnya lagi.

Terkait hal tersebut, DR Andi menyarankan MAHYA melakukan tahapan yang disebut ‘menemukembalikan’ ajaran Thariqah Alawiyah kepada masyarakat. “Tujuannya agar masyarakat lebih mengenal ajaran ini terlebih dahulu,  sebelum bisa mendalami lebih jauh,” ujarnya.

Menurut DR Andy. langkah ‘menemukembalikan’ ajaran Thariqah Alawiyah untuk masyarakat dinilai langkah yang strategis. Sebab banyak ajaran substansial di dalamnya, misalnya mengenai moderasi dalam Thariqah Alawiyah.  “Memperkenalkan ajaran moderat Thariqah Alawiyah di tengah situasi kebangsaan yang cenderung hangat seperti sekarang, adalah langkah yang penting untuk mendinginkannya kembali,” katanya.

Karenanya mereka mendukung penuh langkah-langkah yang dilakukan MAHYA di bidang penelitian dan perpustakaan.  “Apa yang dilakukan MAHYA, yaitu menjadi lembaga penelitian dan perpustakaan  yang tidak berafialiasi kepada politik atau kepentingan tertentu lainnya, merupakan langkah besar di tengah keringnya ilmu pengetahuan kita tentang Islam,” pungkasnya.

Untuk menyelaraskan langkah ini, MAHYA bersama UNJ telah sepakat bersinergi  memperkenalkan Thariqah Alawiyah lebih luas. Salah satunya, mengadakan  diskusi Ilmiah pada 2 Oktober mendatang. Rencananya, seminar tersebut bertajuk “Moderasi Islam dalam Thariqah Alawiyah” yang menghadirkan pembicara utama yaitu  Syaikh Samih Al-Kuhhali dari Tarim, Hadramaut, Yaman.