Hikmah Alawiyah
Image default
Kitab/Buku Baru

Tiga Macam Bid’ah

Setiap pengelana dalam perjalanannya menggunakan sesuatu sebagai petunjuk, begitu pun seorang nelayan yang berlayar menjaring ikan di tengah laut menggunakan rasi bintang layang-layang sebagai petunjuk arah Selatan. Jika tak mengikuti petunjuk itu, pengembara atau nelayan akan tersesat di perjalanan mereka dan tak sampai pada tujuannya.

Lalu bagaimana dengan seorang muslim yang mengaruhi lautan kehidupan di dunia ini? Apa yang menjadi petunjuk dan pegangan mereka?

Sama seperti para pengembara, muslim juga memiliki pedoman pada setiap langkah hidupnya, yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah. Barang siapa yang berpegang dengan dua itu maka akan selamat dan barang siapa yang meniggalkannya akan terserat.

Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ ayat: 59)

Baginda Rasulullah SAW juga bersabda:

أصيكم بما إن اعتصمتم به لن تضلوا أبدا كتاب الله و سنتي

Artinya: “Aku berpesan kepada kalian yang mana jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya. Keduanya adalah kitabullah dan sunnahku.“

Seorang muslim tinggal mengikuti semua petunjuk yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan begitu ia bisa selamat melalui bahtera dunia ini hingga datangnya kematian atau akhir zaman. Namun jika ia tak mengikuti dua petunjuk yang telah disampaikan oleh Rasulullah dan dimengerti oleh orang orang yang beriman, tentu ia akan tersesat. Maka hendaknya ia menghindari hal-hal baru dan perbedaan pendapat yang membingungkan.

Seperi sabda Rasulullah SAW:

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Artinya: “Setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah kesesatan.”

Maka para ulama membagi Bid’ah menjadi tiga bagian.

1. Bid’ah Hasanah. Yaitu perkara yang dipandang oleh para ulama sesuai dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah dari segi kemaslahatan dan manfaat yang lebih baik bagi umat. Salah satu contohnya adalah pengumpulan Al-Qur’an dalam sebuah mushaf pada zaman Khalifah Abubakar ash-Shiddiq ra.

2. Bid’ah Madzmumah, yakni perbuatan bid’ah yang tercela. Dari segi zuhud, wara’ dan qana’ah saja hal itu seperti berlebihan dalam perkara mubah. Contoh, pakaian, makanan, dan tempat tinggal.

3. Bid’ah Sayyi’ah, adalah perkara yang menentang Al-Qur’an dan as-Sunnah atau melawan ijmak umat Islam. Hal ini banyak terlihat pada ahlul bid’ah pada masalah akidah namun sedikit sekali pada masalah furu’.

Maka tak semua amalan yang tak diperintahkan oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah bid’ah yang buruk dan wajib dijauhi. Namun ada pula bid’ah hasanah, yang bila dilaksanakan memiliki kemuliaan dan kemaslahatan bagi umat.

Bid’ah selain bid’ah hasanah wajib kita jauhi. Cukuplah bagi umat Islam Al-Qur’an dan as-Sunnah, serta mengikuti orang-orang shalih yang mengamalkan keduanya dengan selurus-lurusnya.

*Sumber: Buku Nasehat Untukmu Wahai Saudaraku…