Hikmah Alawiyah
Image default
Hikmah Manaqib

Ustadz Ahmad bin Abdullah Assegaf, Ulama Besar, Sastrawan Ulung, & Pendidik Sejati

“Selama berada di Indonesia, Ustadz Ahmad Assegaf memimpin berbagai sekolah di Jakarta, Solo, dan Surabaya, memodernisir sistem pendidikan, mempertinggi mutu pengajaran, dan mensyiarkan Islam.” (K.H. Abdullah bin Nuh).

Salah seorang ulama terkemuka dari kalangan habaib di Indonesia yang juga seorang sastrawan, pendidik, dan tokoh pers adalah Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin bin Alwi Assegaf, yang lebih dikenal dengan sebutan Ustadz Ahmad bin Abdullah Assegaf. Ia lahir pada tahun 1299 H (1882 M) di kota Syihr, ibu kota Hadhramaut kala itu, tempat ayahnya berdakwah. Sayyid Abdullah, ayahnya, adalah putra tertua Sayyid Muhsin bin Alwi Assegaf.

Di masanya, Sayyid Abdullah dikenal sebagai ulama besar dan seorang faqih yang memiliki keluasan ilmu dan kepakaran dalam bidang agama. Ia telah menghabiskan masa hidupnya untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Sedangkan kakeknya, Sayyid Muhsin bin Alwi Assegaf, seorang yang dikenal keunggulannya di tengah qabilah-qabilah yang ada di sana. Ia tercatat dalam sejarah sebagai tonggak keadilan dan kebenaran pada zamannya.

Keluarganya dikenal dengan ketinggian ilmunya, ketaqwaannya, dan keshalihannya. Mereka adalah cikal bakal para ulama Seiwun, yang menimba ilmu secara turun-temurun dari kakek sampai anak-cucu. Di Hadhramaut, hal tersebut merupakan tradisi pewarisan intelektual Alawiyyin yang terus terpelihara hingga saat ini, tanpa mengesampingkan interaksi dengan komunitas keilmuan di luar Hadhramaut. Tradisi tersebut tak lain adalah sebuah kesungguhan usaha kaum Alawiyyin dalam menjaga kemurnian doktrin-doktrin agama lewat pemeliharaan yang berkesinambungan dari generasi ke generasi dan dari sumber-sumbernya yang terpercaya.

Ketika ia berumur empat tahun, sang ayah membawanya ke Seiwun, yang dikenal sebagai kota ilmu yang banyak menghasilkan ulama besar dan orang-orang shalih. Seiwun adalah kota asal-muasal nenek moyangnya. Di sanalah ia tumbuh besar di bawah asuhan para ulama.

Setelah beranjak remaja, Ahmad muda berangkat ke kota Tarim. Sejak dulu, Tarim terkenal sebagai salah satu pusat ulama besar dan tempat tinggal kaum shalihin. Di sana ia bergaul dan berkecimpung di majelis-majelis ilmu dan mengadakan hubungan yang sangat akrab dengan para ulama, dan senantiasa duduk bersama dengan mereka. Ia menimba berbagai macam ilmu laksana meminum curahan air dengan sepuas-puasnya.

Bakat intelektualitasnya tepat berpadu dengan kesungguhannya dalam menuntut ilmu. Para ulama memuji kecerdasannya. Di antara mereka yang memujinya adalah gurunya sendiri, Al-Allamah As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, mufti Hadhramaut pada waktu itu. Al-Masyhur adalah penulis kitab Bughyatul Mustarsyidin, sebuah kitab fiqih yang sangat populer di kalangan santri. Lewat satu karya lainnya, kitab Syams Az-Zahirah, ia juga sering menjadi rujukan utama dalam pemeliharaan dan penelitian nasab kaum Alawiyyin.

Di samping Sayyid Abdurrahman Al-Masyhur, gurunya yang lain di antaranya Syaikh Salim Bawazir, Syaikh Sa`id bin Saad bin Nabhan, Habib Ubaidillah bin Muhsin Assegaf, Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, Habib Muhammad bin Salim As-Sirri.

Pantulan Kelembutan Hati

Ustadz Ahmad dikenal sangat gemar mengadakan perjalanan ke berbagai negeri, menemui ulama-ulama, menelaah keadaan negeri yang baru dikunjunginya, dan mengadakan dialog-dialog dengan para cendekiawan. Dengan pemimpin-pemimpin pergerakan Indonesia ia juga banyak berhubungan. Ia juga senang ke daerah-daerah pegunungan yang berhawa sejuk. Hal itu tercermin pada syair-syairnya yang mengungkapkan keindahan, ketenangan, dan panorama pegunungan yang tampak kehijauan, yang pada dasarnya adalah pantulan kelembutan hati seorang sastrawan.

Kedatangannya ke Nusantara berawal pada tahun 1326 H (1908 M) ketika ia, yang saat itu berusia 26 tahun, berlayar ke Singapura dan kemudian melanjutkannya ke Indonesia untuk mengunjungi saudara tertuanya, Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf, di Pulau Bali. Beberapa saat lamanya ia tinggal di sana.

Dari Pulau Bali, ia kemudian meneruskan perjalanan ke Surabaya. Di kota ini ia menikah dan mempunyai beberapa orang putra.

Di dalam rumah tangga, ia adalah pemimpin keluarga yang menerapkan pola pendidikan dan akhlaq yang Islami. Semua putra-putrinya dibekali ajaran agar senantiasa bertawakal kepada Allah, dengan banyak berdoa dan membaca wirid-wirid dari para ulama terdahulu, seperti Ratibul Haddad dan Wirdul Lathif, susunan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

Di kota Surabaya, ia berjumpa beberapa perintis pergerakan Islam dan cendekiawan yang sedang hangat membahas kebangkitan pergerakan keturunan Arab (untuk kemerdekaan Indonesia dan kemajuan kaum muslimin) di masa mendatang. Ia pun terlibat aktif dan banyak mengadakan perbaikan-perbaikan dalam hal itu.

Lewat peran aktifnya, tak berapa lama kemudian tergeraklah cita-cita dan keinginan sekelompok jamaah di Surabaya, Gresik, dan Jakarta yang mencintai kebaikan dan memperjuangkannya. Maka berdirilah Madrasah Al-Khairiyah di kota Surabaya, dan ia menjadi orang pertama yang dipercaya untuk memimpin madrasah tersebut.

Ia memimpin dengan sangat bijaksana. Dan ia pun mulai dikenal sebagai seorang yang cerdik dan pandai serta ahli dalam dunia pendidikan.

Kemudian ia pergi ke kota Solo dan menjadi pengurus di sebuah sekolah. Tak lama kemudian ia segera dikenal sebagai salah seorang pemimpin masyarakat terkemuka pada saat itu.

Namun demikian, semua itu tidak membuatnya berhenti belajar dan menambah keluasan ilmunya. Pada malam hari ia masih sempat belajar di sebuah sekolah untuk memperdalam ilmu-ilmu sains, psikologi, dan ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan pendidikan.

Karena kecemerlangan otaknya, dalam waktu singkat ia dapat secara memadai menguasai ilmu-ilmu tersebut. Salah seorang gurunya di bidang psikologi mengakui keunggulannya sebagai seorang murid yang cerdik lagi cekatan.

Di samping berguru, ia juga sudah mengajar. Sahabat-sahabatnya dari kaum pribumi yang ia ajar, di antara mereka juga terdapat seniman, sangat mengagumi penguasaannya atas materi-materi yang disampaikan. Mereka juga mengakui kemahirannya di bidang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu, juga dalam hal manajemen lembaga pendidikan. Demikian pula halnya para murid dan orangtua murid, mereka juga sangat mengaguminya.

Selain mengajar, ia juga aktif berniaga, antara lain ke Jakarta dan Solo. Meski demikian, ia tidak tenggelam dalam kesibukan perniagaannya. Ia tidak melalaikan cita-cita dan keinginannya dalam bidang yang sangat diminatinya, yaitu mengadakan perbaikan-perbaikan dalam dunia pendidikan dan pengajaran.

Setelah beberapa tahun lamanya menetap di Solo, ia hijrah ke Jakarta dan menjadi pemimpin di sekolah Jami’at Kheir. Dengan bantuan para cendekiawan lainnya, ia memperbaiki atau melengkapi sistem pendidikan sebelumnya. Ia membuka kelas-kelas baru bagi para pelajar, menyusun tata tertib, mengarang buku-buku pelajaran sekolah, serta menggubah sendiri lagu-lagu untuk para murid agar mereka dapat terus termotivasi dalam menuntut ilmu dan membela agama.

Maka berdatanganlah utusan-utusan dari berbagai penjuru Pulau Jawa, Sumatera, dan lain-lain. Berdatangan pula para pelajar dari berbagai pelosok di Indonesia, bahkan Malaysia, baik untuk belajar kepadanya maupun untuk memintanya agar mengirim guru-guru hasil dari didikannya.

Kemudian dari Mukalla dan Syihr, Hadhramaut, tibalah sebuah surat yang meminta agar ia dapat memimpin pengajaran di sana, yaitu di Kesultanan Gaiti di Mukalla. Namun karena ia sedang dalam masa-masa merintis dan berjuang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan syiar dakwah Islam di Jakarta (di antaranya dalam persiapan pembentukan Yayasan Ar-Rabithah Al-Alawiyah), untuk sementara ia belum bisa memenuhi permintaan Sultan Al-Gaiti.

Gambaran pengabdiannya dalam dunia pendidikan di Indonesia, salah satunya terekam dalam kata-kata ulama besar K.H. Abdullah bin Nuh pada salah satu tulisannya, “Selama berada di Indonesia, Ustadz Ahmad Assegaf juga memimpin berbagai sekolah di Jakarta, Solo, dan Surabaya, memodernisir sistem pendidikan, mempertinggi mutu pengajaran, dan mensyiarkan Islam.”

Karakternya yang kuat sebagai tokoh pendidik sejati terlihat pada gelar sapaan kebanyakan orang kepadanya, yaitu al-ustadz atau sang guru. Ya, memang tidak diragukan lagi, Al-Ustadz Ahmad bin Abdullah Assegaf adalah seorang guru dalam arti yang sebenarnya. Namun demikian, ia tetap dikenal sebagai seorang yang low profile, ramah, mudah bergaul, dan tidak suka berdebat.

 Majalah Ar-Rabithah  

Setelah berdirinya Yayasan Ar-Rabithah Al-Alawiyah, di mana ia menjadi salah satu motor penggerak utamanya, baik dalam hal pikiran maupun tulisan, tidak lama kemudian ia menerbitkan majalah Ar-Rabithah, yaitu majalah yang mengupas materi-materi bidang keagamaan dan politik. Majalah ini telah menjadi salah satu wadah, baik bagi dirinya maupun para penulis lainnya, untuk menyampaikan berbagai pendapat dan buah pemikiran yang positif.

Untuk ukuran pada saat itu, Ar-Rabithah dapat dikatakan sebagai sebuah majalah yang sangat progresif. Banyak hal dipublikasikan di sana, terutama tentu saja yang berkaitan dengan perihal syariah, bahkan juga siyasah (politik), untuk menangkis berbagai pandangan orientalis Barat di Indonesia melalui pemerintahan kolonialisme Belanda yang telah berlangsung lama. Selain itu, Ar-Rabithah juga mengulas materi-materi sejarah Islam, berita tentang kaum muslimin pada umumnya dan Alawiyyin pada khususnya, dan berbagai topik penting lainnya.

Hanya saja karena bahasa pengantar majalah ini adalah bahasa Arab, peredarannya terbatas di lingkungan mereka yang memahami bahasa Arab.

Dalam majalah tersebut, dapat ditemukan tulisan-tulisannya berupa karya sastra Arab yang bermutu tinggi. Di dalamnya tertuang pokok-pokok pikiran yang mengarah dan menyerukan kepada pembahasan-pembahasan ilmiah, baik di bidang sejarah, kemasyarakatan, maupun sastra itu sendiri.

Ia sangat merasa bertanggung jawab untuk mempertahankan kelangsungan terbitnya  majalah Ar-Rabithah, hingga pada setiap edisi penerbitannya terlihat peranannya yang cukup vital. Tanpa mengesampingkan peranan pihak-pihak yang juga turut menyokongnya, dapat dikatakan, hampir keseluruhan proses produksi majalah tersebut ia tangani secara dominan.

Di samping sebagai kontributor utama atas artikel-artikel di dalamnya, proses editing, proses cetak, bahkan hingga pasca-cetaknya (sirkulasi dan distribusi), tak lepas dari manajemen dan sentuhan tangannya. Hal itu tidak lain sebagai wujud kesungguhannya dalam menjadikan majalah ini agar dapat terus berfungsi sebagai wadah bagi para ulama, sejarawan, pendidik, pujangga, sastrawan, dan yang lainnya, di tengah-tengah keterbatasan sumber daya manusia yang memadai untuk sebuah penerbitan media massa kala itu.

Karenanya majalah yang banyak berisi pembahasan-pembahasan ilmiah ini dinilai memiliki nilai sejarah yang tinggi dan berperan besar dalam mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan, kesenian, dan pandangan masyarakat umum pada saat itu.

 Anti Penjajahan

Dalam setiap langkahnya, Ustadz Ahmad selalu berjuang untuk kemerdekaan. Ia sangat membenci setiap bentuk penjajahan. Ia selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang sifatnya merugikan perjuangan. Sedapat mungkin ia menghindar dan menjaga jarak dalam berhubungan dengan para penjajah, khususnya pemerintah Hindia Belanda dan para orientalis yang mempunyai rasa permusuhan yang sangat besar terhadap Islam dan kaum muslimin.

Dalam banyak kesempatan, ia selalu mengingatkan khalayak luas akan tipu daya para orientalis yang selalu mengelabui bangsa Indonesia dengan memutarbalikkan fakta sejarah dan menodai tapak jejak sejarah Islam di Indonesia. Pada tulisan-tulisannya juga tercermin usahanya dalam membuka tabir kepalsuan mereka yang selalu berusaha memecah belah bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, ia sangat tidak menghendaki campur tangan pemerintah Belanda di setiap urusan lembaga pendidikan yang dipimpinnya.

Tidaklah mengherankan bila pemerintah Hindia Belanda pada saat itu tidak senang kepadanya. Sekolah yang dipimpinnya akhirnya dikucilkan dan dipojokkan. Usaha pemerintah Hindia Belanda itu tidak berhasil mematikan perkembangan sekolahnya.

Kemudian pemerintah Hindia Belanda mencoba mengubah siasat, yaitu dengan mengadakan pendekatan-pendekatan dan menawarkan bantuan keuangan kepadanya. Namun, segala bantuan itu ditolaknya mentah-mentah. Sekolah-sekolah yang berada di bawah asuhannya dikenal steril dari segala bantuan Belanda dalam bentuk apa pun.

Pertolongan Allah SWT pun datang lewat simpati masyarakat kepadanya. Ketika diadakan Kongres Muallimin di Pekalongan, terbentuklah sebuah panitia yang akan mengupayakan dana bagi perbaikan-perbaikan sekolah dan sarana pendidikan yang dipimpinnya. Kala itu ia, yang menjadi salah satu anggota kongres, mengajukan usulan yang akhirnya menjadi keputusan untuk tidak mengikuti sistem yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia lebih memilih untuk mengambil sistem pendidikan yang digunakan negara-negara Islam, seperti Mesir dan yang lainnya. Diputuskan pula untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran tambahan yang menggantikan bahasa Belanda.

Visinya dalam hal pendidikan dinilai jauh ke depan. Dalam memilih kostum baju sekolah, ia selalu berusaha agar anak-anak didiknya tidak terlihat kalah dengan seragam sekolah yang berada di bawah naungan pemerintah Hindia Belanda. Dibuatkannyalah kostum baju seragam sekolah Jamiat Kheir di Jakarta dan sekolah TK Al-Jannah di Cianjur yang tergolong sangat bagus untuk ukuran saat itu. Hal itu ia maksudkan agar masyarakat juga memahami bahwa dienul Islam adalah agama yang mengajak manusia kepada kebaikan, kebersihan, dan keindahan.

Jasa, peran, dan kelebihan Ustadz Ahmad Assegaf dalam banyak bidang telah membuat kagum orang-orang yang berhubungan dengannya. Murid, sahabat, guru, bahkan juga kalangan non-muslim. Salah seorang murid dekatnya, ulama terkemuka Indonesia dan salah satu tokoh kebanggaan Jawa Barat, K.H. Abdullah bin Nuh (pengasuh Ponpes Al-Ihya’ Bogor), mengatakan, “Sudah sejak awal pertemuan saya dengan Ustadz Ahmad bin Abdullah Assegaf, dapat saya tarik kesimpulan bahwa beliau adalah seorang ulama, sarjana, sastrawan, dan mempunyai keahlian dalam ilmu pendidikan.

Selama puluhan tahun bergaul dengan Ustadz Ahmad, yang menghabiskan waktunya selama 40 tahun di Indonesia, dapat saya rasakan bahwa beliau bukan hanya pecinta Indonesia, tetapi juga berjuang untuk Indonesia. Yang memusuhi Indonesia, seperti Belanda, dimusuhinya. Ini bukan hanya disimpan dalam hati, tetapi juga diutarakan dalam tulisan-tulisan, pidato-pidato, maupun syair-syairnya.”

Muridnya yang lain, K.H. Abdullah Salim, dalam terjemahan kitab Ad-Durrah Al-Bahiyyah fi Al-Adab Al-Mardhiyyah (karya Ustadz Ahmad juga), mengatakan, “Dalam hal membuat syair-syair yang menggugah hati, beliau adalah ahlinya, dan yang jarang ada tandingannya. Sebagai seorang murid beliau, saya merasa bangga dapat turut menikmati serta menerima hikmah-hikmah yang berharga dari syair-syair beliau.” Ya, keahlian Ustadz Ahmad dalam bidang syair dan sastra Arab memang mengagumkan banyak pihak, bahkan juga para ahli syair dari beberapa negara Arab.

Bagi para pujangga dan sastrawan yang mengetahui dirinya, syair-syairnya dikenal banyak mengandung makna yang mendalam. Salah satu syair karangannya pernah dibacakan oleh Ustadz Muhammad bin Hasyim bin Thohir dalam sebuah simposium di Cairo Mesir. Syairnya itu membuat hadirin takjub terkesima hingga bait-baitnya dibaca berulang-ulang. Di antara tokoh ulama yang mengakui keunggulan syair-syairnya adalah Al-Allamah As-Sayyid Abubakar bin Abdurrahman Syihabuddin. Ia mengatakan, “Sesungguhnya itulah perkataan seorang penyair ulung yang berkesan dalam jiwa dan pikiran.”

Miniatur Heidelberg

Ustadz Ahmad adalah figur ulama yang memiliki banyak bakat dan keistimewaan. Salah satunya adalah keahliannya di bidang musik. Dialah yang mengarang lagu mars Jamiat Kheir dan banyak lagu lainnya untuk para murid sekolahnya. Di antara syair lagu ciptaannya adalah syair Birrul Walidain, yang pada masa sekarang pernah dipopulerkan melalui suara Haddad Alwi dan Sulis pada album Cinta Rasul. Ia juga piawai memainkan berbagai alat musik, seperti piano, biola, serta meniup seruling.

Ada sebuah cerita menarik di balik keahliannya di bidang musik. Sekali waktu ia dipanggil oleh Gubernur Jenderal Belanda dan ia diminta menunggu di ruang tamu lantai bawah. Kebetulan pada saat itu di ruang tamu tersebut terdapat sebuah piano. Terbawa oleh jiwa seninya ia langsung saja duduk di hadapan piano tersebut dan kemudian memainkannya dengan membawakan lagu Wilhelmus, lagu kebangsaan Kerajaan Belanda.

Begitu mendengar lagu tersebut dimainkan melalui piano miliknya yang terdapat di lantai bawah, Gubernur Jenderal, yang sedang berada di lantai atas, langsung turun untuk mengetahui siapa gerangan yang sedang memainkan piano dengan begitu baiknya.

Lalu terlihatlah olehnya sosok Ustadz Ahmad bin Abdullah Assegaf dengan jubahnya yang berwibawa, sorban putih yang bersih, wajah ceria dan penuh senyum. Tampaknya ia ingin menunjukkan bahwa umat Islam juga dapat bergaul dengan baik dengan segala bangsa di dunia, asalkan tidak merugikan dirinya dan agamanya. Langsung saja ia dipeluk dan dituntun berjalan bersama oleh Gubernur Jenderal menuju lantai atas.

Selain ahli di bidang musik, ia juga memiliki keahlian (bahkan dapat dikatakan kejeniusan) di bidang ilmu teknik. Banyak kreasi yang pernah dibuatnya. Di antaranya sebuah jam dengan tulisan Arab yang diberi hari dan tanggal. Ia memiliki penguasaan yang mendalam di bidang teknik, bahkan sampai pernah membuat sebuah mesin.

Diceritakan, ia pernah diundang oleh salah seorang sahabatnya, yaitu Sayyid Yahya, putra  Mufti Betawi, Habib Utsman bin Yahya, yang pada waktu itu membuka usaha percetakan untuk kitab-kitab agama Islam. Pada kesempatan tersebut, diperlihatkan kepadanya sebuah mesin cetak listrik otomatis Heidelberg yang baru saja diimpornya dari Eropa. Mesin cetak Heidelberg adalah mesin yang sangat mutakhir pada saat itu, karena sebelumnya mesin cetak masih manual saja sifatnya. Dengan kagum ia memperhatikan secara teliti dan seksama. Lama sekali ia memperhatikan satu per satu bagian dari mesin cetak otomatis tersebut.

Setelah peristiwa itu berlalu, ia menghilang beberapa lama. Hal itu membuat sang sahabat, Sayyid Yahya, merasa kehilangan dan ingin bertemu dengannya.

Beberapa waktu kemudian ia datang lagi ke kediaman Sayyid Yahya, yang menyambutnya dengan penuh kehangatan karena rindu kepadanya. Dalam kesempatan itu, ia mengundang Sayyid Yahya datang ke rumahnya untuk menunjukkan hasil karya yang baru saja diselesaikannya beberapa hari terakhir.

Sayyid Yahya pun memenuhi undangan Ustadz Ahmad untuk berkunjung ke rumahnya. Ia juga ingin menyaksikan hasil karya yang diberitakannya.

Begitu melihat hasil karyanya tersebut, Sayyid Yahya sangat tercengang, karena hasil karya Ustadz Ahmad adalah sebuah mesin yang merupakan miniatur mesin cetak Heidelberg yang baru saja diimpornya dari Eropa dan pernah ditunjukkannya kepada Ustadz Ahmad beberapa waktu sebelumnya.

Persatuan dan Perdamaian 

Ustadz Ahmad memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam memberikan petunjuk dan pengarahan menuju persatuan dan perdamaian di tengah-tengah umat. Semua itu dapat dilihat dalam berbagai qashidah hasil gubahannya, serta syair-syair dan nyanyian-nyanyian ciptaannya, yang menyeru kepada persatuan umat dalam satu barisan. Ia juga menyerukan agar bangsa Arab Hadhramaut tidak membuang-buang waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Karya-karya peninggalannya yang berbentuk tulisan di antaranya meliputi buku-buku bahan ajar di sekolah atau madrasah, buku-buku bacaan berbahasa Arab, buku berisi gubahan lagu-lagu untuk murid-murid sekolah (juga dalam bahasa Arab), kumpulan syair dan nasihat untuk generasi muda-mudi Islam, kitab-kitab tarikh atau sejarah Islam, kitab tentang ilmu nasab, buku-buku tentang ilmu jiwa dan ilmu pendidikan, hingga buku-buku cerita yang penuh dengan hikmah.

Di antara buku-buku karangannya tersebut adalah Durus Al-Lughah Al-Arabiyyah, Tahshil Al-Ijabah, Durus Al-Mahfuzhat, Arjuzah lil Banat, Al-Anasyid Al-Madrasiyyah, Ilmu an-Nafs, Durratul Bahiyyah, Dukhul Al-Islam ila Indonesia, Al-Islam fi Banten, Dhahaya at-Tasahul, Ash-Shabr wa Ats-Tsabat, Khidmatul Asyirah, Fatat Garut. Yang sangat terkenal di antara karya-karyanya adalah Khidmatul-Asyirah, sebuah kitab tentang nasab Alawiyin dan Fatat Garut, karya sastra berbentuk roman yang sangat berbobot.

Fatat Garut adalah sebuah roman kehidupan multi-etnis hasil karyanya yang penuh kecintaan pada Indonesia. Dalam hasil karyanya tersebut ia menggambarkan situasi sosial-politik dan budaya pada masa itu. Sungguh merupakan sebuah karya yang dihasilkan oleh jiwa yang menggebu-gebu penuh romantika dan gandrung akan kecintaan pada negerinya, Indonesia, serta mengandung falsafah hidup yang bermutu tinggi.

Salah seorang mahasiswi IAIN Ciputat Jakarta, Nahmah Shahab, pada tahun 1997 telah menjadikan salah satu karya Ustadz Ahmad, yaitu novel Gadis Garut, sebagai topik utama pembahasan skripsinya, dengan judul Min wujuh al-muhassinat al-badi’iyyah fi qishshah Fatat Garut.

Pada Bab Latar Belakang Permasalahan, ia menuliskan, “Ustadz Ahmad dikenal akan kemahirannya dalam bidang sastra dan pengajaran. Di dalam bidang sastra, kita dapat mengetahui hal itu secara nyata apabila kita membaca karya-karya sastranya. Syairnya mudah dan bagus, tertulis dalam Diwan (kumpulan syair-syair)-nya yang dihargai oleh para sastrawan yang mengerti syair. Di antara faktor yang mendorong saya untuk memilih kajian ini adalah karena Ustadz Ahmad orang pertama yang menulis kisah dalam bahasa Arab di Indonesia.

Sebagian besar tema-tema kisahnya menggambarkan potret masyarakat tempat ia tinggal, di mana dengan kisahnya ia mampu mengubah suatu keadaan, yang dipandangnya perlu diadakan perubahan. Di antara kisah-kisah terkenal yang ditulisnya adalah Fatat Garut. Kisah ini memiliki gaya yang indah, yang menggabungkan antara keindahan dan kemanfaatan.”

Adapun Ash-Shabr wa Ats-Tsabat adalah sebuah buku cerita yang mengetengahkan cara hidup yang baik di tengah masyarakat untuk mencapai kemuliaan dunia dan akhirat. Dengan kisah-kisah semacam itu, ia mencoba mengungkapkan arti dan tujuan hidup yang diambil dari perjalanan sejarah manusia dan kejadian-kejadian nyata sehari-hari, yang dari itu semua dapat dipetik manfaatnya untuk menjalani kehidupan.

Karyanya yang lain, Khidmatul Asyirah, merupakan ringkasan kitab Syams AzhZhahirah, untuk mempermudah para penelaah kajian ilmu nasab.

Selain karya-karya tertulisnya, ia juga mewariskan ilmu pengetahuan dan murid-murid yang tersebar di berbagai penjuru yang menyebarkan ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Memang, cita-cita dan keluasan ilmu Ustadz Ahmad dewasa ini tetap diteruskan dan disebarluaskan oleh segenap murid-muridnya, yang kini masing-masing sudah memiliki sekolah, madrasah, pesantren, ataupun yang aktif di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Sahabat, sekaligus Guru

Di suatu saat ia merasakan bahwa tanah leluhurnya juga telah lama berharap dan menanti sumbangsih ilmu dan kehadirannya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Hadhramaut, negeri kelahirannya. Maka kemudian diadakanlah sebuah upacara perpisahan oleh Ar-Rabithah Al-Alawiyyah, yang dihadiri masyarakat luas. Kata-kata sambutan yang disampaikan banyak pihak pada saat itu pada umumnya berisi pujian-pujian terhadap kepakarannya, karya-karyanya, dan pengabdiannya selama ini.

Pada tahun 1950 M, ia pun berangkat ke Hadhramaut dengan menggunakan kapal laut. Kapal berangkat meninggalkan Tanjung Priok. Di tengah perjalanan, penyakit asma yang dideritanya kambuh. Pada waktu kapal yang ditumpanginya mendekati pelabuhan Medan, terdengarlah kabar bahwa sang ustadz telah pulang ke rahmatullah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un. Itu terjadi pada hari Selasa tanggal 26 Jumadal Ula tahun 1369 H (14 Maret 1950 M).

Setelah diadakan upacara keagamaan seperlunya di atas kapal, pada hari Kamis tanggal 28 Jumadil Awwal 1369 H jenazahnya disemayamkan di tengah laut lepas, di sekitar perairan mendekati pelabuhan Medan. Allah SWT menakdirkan jasad sucinya tetap berada di lautan Indonesia, negeri yang sangat dicintainya.

K.H. Abdullah bin Nuh, ketika mengomentari kepergiannya, mengatakan, “Bangsa Indonesia dan kaum muslimin merasa kehilangan seorang sahabat yang mukhlis, guru yang tekun, sarjana yang produktif, sastrawan yang gemilang, dan pecinta Indonesia serta pembelanya yang setia.”

Sayangnya, banyak karyanya yang belum sempat dibukukan dan hilang dalam perjalanan terakhirnya itu.

Walaupun ia telah wafat, karya-karya peninggalannya tetap hidup sampai sekarang, terutama bagi mereka yang mengerti kualitas dan mutu suatu karya dan bobot intelektualnya. Sosok pendidik sejati ini akan selalu dikenang dan mendapat tempat tersendiri di hati orang-orang yang memahami kedudukan dirinya.

Sebut saja salah seorang muridnya, Al-Allamah As-Sayyid Al-Walid Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, seorang ulama besar dari Bukit Duri, Jakarta Selatan, yang wafat tahun lalu. Almarhum sangat mengaguminya, sampai-sampai menempatkan secara khusus foto  gurunya tersebut di kamar pribadinya. Ia pernah mengatakan bahwa ia sangat senang memandang wajah guru tercintanya itu.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan curahan kasih sayang kepadanya dan menempatkannya di tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin. Mahabenar Allah SWT, yang telah berfirman, “Jangan sekali-kali kalian berkata bahwa mereka yang syahid itu mati, karena sesungguhnya mereka tetap hidup di sisi Allah dengan dilimpahi penuh karunia.”